Menapaki Jejak Pembelajaran Konservasi di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat Daya

Awal Februari 2025, INSPIRIT kembali menapaki Tanah Papua atas undangan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Sorong untuk terlibat dalam sebuah lokakarya pembelajaran yang mengangkat praktik konservasi laut di Bentang Laut Kepala Burung. Di sana, kami melakukan proses reflektif bersama lebih dari 80 peserta, perwakilan dari masyarakat desa, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, pemerintah, pemuda, hingga tokoh adat.
Pertemuan ini adalah titik temu untuk merefleksikan sejauh mana perjalanan itu telah dilalui—apa yang dirasakan, keberhasilan yang telah dicapai, tantangan yang dihadapi, dan pelajaran apa yang bisa dibawa ke masa depan. Tentu, pembelajaran ini bukan sesuatu yang mudah karena kita mempelajari apa yang kita pelajari. Pembelajaran tidak hanya terbatas pada mengalami hal baru, tetapi terus ada upaya menerapkan cara baru dan memberi ruang untuk menciptakan sesuatu yang baru, sampai kita menemukan “why we do what we do?”.
Kali ini, INSPIRIT menggunakan pendekatan Triple Loop Learning atau Pembelajaran Tiga Lantai, khususnya untuk pengembangan diri dan organisasi. Pembelajaran Tiga Lantai adalah cara belajar yang mendalam, tidak hanya melihat kesalahan apa yang dilakukan, tetapi juga menggali ulang asumsi dan keyakinan.
Lantai pertama, kita diajak mengenali fakta dan pengalaman nyata di desa—apa yang berhasil dan apa yang belum berhasil. Tingkat ini merupakan dasar untuk belajar dari kesalahan dan memperbaikinya, sifatnya masih teknikal. Mama Ribka contohnya, ia yang dulunya tidak berani bercerita di depan, kini menjadi lebih percaya diri membagikan cerita keberhasilan kelompok sasi yang ia pimpin. Matanya berbinar, bercerita penuh bangga, ‘Mama dulu tidak tahu berhitung, sekarang mama menyelam, mengukur lobster, memfoto teripang di bawah laut.’ Cerita-cerita seperti ini menjadi pijakan awal dalam proses pembelajaran, menyadarkan bahwa perubahan dimulai dari keberanian kecil untuk mencoba. Namun perjalanan tidak berhenti di sana.
Lantai kedua adalah proses mempertanyakan norma dan cara berpikir yang ada, tidak hanya mengulang apa yang sudah dilakukan. Kita diajak untuk mengevaluasi nilai, pola pikir, dan asumsi yang melandasi tindakan mereka, lalu mengadaptasi cara baru yang lebih efektif atau relevan. Masyarakat bersama tim teknis kini mulai melakukan survei dan eksplorasi potensi wisata yang sebelumnya belum tergali di kawasan perairan untuk mengembangkan ekowisata berbasis komunitas—misalnya spot snorkeling di sekitar sasi. Ini adalah fase perubahan paradigma—dari mengikuti ke menggagas.
Di lantai ketiga, puncak pembelajaran adalah kita diajak melampaui apa yang pernah kita yakin—mempertanyakan nilai-nilai, keyakinan yang mendasari tindakan kita untuk menciptakan sesuatu hal baru yang lebih adaptif dan berkelanjutan melalui ragam inovasi. Saat pembelajaran, masyarakat tidak hanya belajar soal potensi wisata, tetapi juga ikut menciptakan sistem wisata alternatif yang berakar pada budaya dan kearifan lokal. Ini bukan sekadar “melibatkan masyarakat”, tapi mengubah posisi mereka menjadi aktor utama dalam seluruh rantai nilai pariwisata.
‘Laut adalah Mama, dan tanah adalah Papa.’, sepenggal pernyataan yang menyempurnakan proses reflektif ini, sebuah simbol betapa eratnya mereka dengan alam, sebuah perjalanan pembelajaran kolektif. Ini bukan hanya tentang menjaga laut dan tanah, tapi juga tentang menjaga hubungan dengan sesama, dengan masa depan.
Apa yang tumbuh di Bentang Laut Kepala Burung kini bukan hanya semangat menjaga keberlanjutan, lebih besar dari itu ada kesadaran, solidaritas, dan keberanian untuk berubah bersama.

